Divisi Programming KSL UNG berinovasi melalui kelas Code Circle, menyelami sinergi antara kreativitas koding dan kecerdasan buatan.
Berita 31 January 2026 4 menit baca

Divisi Programming KSL UNG berinovasi melalui kelas Code Circle, menyelami sinergi antara kreativitas koding dan kecerdasan buatan.

A

Admin KSL

Penulis

Gorontalo, 1 februari 2026 – Kelompok Studi Linux (KSL) Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan kompetensi teknologi mahasiswa melalui inisiatif terbaru Divisi Programming-nya. Bertajuk “Code Circle: Where Code Meets Intelligence,” kelas intensif ini berhasil menarik perhatian puluhan peserta untuk menggali potensi Artificial Intelligence (AI) sebagai partner dalam proses pemrograman. Kegiatan yang digelar di Lab 3 Informatika ini menjadi bukti nyata dari visi KSL untuk mencetak sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing tinggi di bidang teknologi informasi.

Dihadiri dengan antusias oleh beberapa anggota dari divisi lain, Multimedia dan Networking, “Code Circle” hadir bukan sekadar sebagai kelas teori, melainkan sebuah experience belajar yang imersif dan aplikatif. Alif Bima Pradana, selaku Ketua Divisi Programming KSL UNG sekaligus pemateri utama, mengungkapkan semangat di balik konsep unik ini. “Di era di mana AI berkembang pesat, kami ingin anggota KSL dan mahasiswa Informatika tidak hanya menjadi pengguna, tetapi pengarah yang cerdas. ‘Code Circle’ kami desain sebagai ruang kolaborasi untuk belajar how to think, bukan sekadar what to code, dengan bantuan alat-alat AI modern,” ujarnya.

Bersama puluhan anggota yang super antusias, kami dari Divisi Programming KSL UNG baru saja menggelar kelas spesial: “CODE CIRCLE”! Kelas ini adalah bukti bahwa belajar pemrograman di era AI bisa jadi sangat menyenangkan, interaktif, dan penuh eksplorasi!

Dari Konsep ke Kode: Membongkar Mitos “AI Akan Gantikan Programmer”

Sesi kelas secara gamblang membedah paradigma keliru bahwa AI akan menggantikan peran programmer. Sebaliknya, melalui materi yang disampaikan, AI diposisikan sebagai “force multiplier” sebuah alat pengganda kemampuan yang dapat mempercepat debugging, menawarkan alternatif solusi, dan menangani kode repetitif, sehingga memungkinkan programmer fokus pada logika inti dan arsitektur yang lebih kompleks.

Kegiatan inti berpusat pada dua pilar utama: “Teknik Prompting Efektif” dan “Implementasi dalam Proyek Nyata.” Peserta diajak memahami seni berkomunikasi dengan AI melalui prompt yang spesifik, kontekstual, dan terstruktur untuk menghasilkan kode yang lebih relevan. Tidak berhenti pada teori, pengetahuan ini langsung diuji dalam sesi hands-on challenge, di mana setiap peserta ditantang untuk membangun sebuah landing page kreatif dalam waktu 60 menit dengan memanfaatkan HTML, CSS, JavaScript, dan bantuan AI pair-programmer.

Suasana laboratorium pun berubah menjadi hub kreativitas yang dinamis. “Seru dan menantang! Ternyata untuk mendapatkan kode yang optimal dari AI, kita harus bisa memberikan instruksi yang sangat jelas. Ini melatih kemampuan problem-solving dan komunikasi kita sendiri,” ungkap Radityo, Anggota Divisi Programming Batch 14 yang turut hadir mendampingi peserta. Komentar senada datang dari salah satu peserta, Alya Pratiwi Utiarahman Anggota Divisi programming Batch 15, “Awalnya saya pikir AI itu langsung bisa bikin program lengkap. Ternyata kita tetap harus paham dasar pemrogramannya agar bisa mengarahkan dan mengoreksi hasilnya. Kelas ini membuka mindset baru.”

Memperkuat Fondasi, Memacu Inovasi

Kegiatan “Code Circle” secara gamblang selaras dengan misi KSL UNG, khususnya dalam poin “Mengembangkan potensi dan kreativitas anggota di bidang teknologi.” Inisiatif ini tidak hanya membekali anggota dengan hard skill terkini yang sangat relevan dengan kebutuhan industri, tetapi juga memperkuat soft skill seperti kolaborasi, pemikiran kritis, dan adaptasi terhadap teknologi baru.

“Prestasi gemilang lahir dari eksplorasi dan keberanian mencoba hal baru. Kami di bidang Riset dan Teknologi (Ristek) sangat mendukung inovasi seperti ‘Code Circle’ ini. Ini adalah langkah konkret untuk membawa atmosfer riset dan pengembangan teknologi yang aplikatif ke dalam keseharian anggota,” tutur Arifin Ilham Bumulo, Kabid Ristek KSL UNG.

Keberhasilan perdana “Code Circle” menjadi sinyal positif dan landasan yang kuat untuk seri-seri kelas serupa di masa depan. Divisi Programming KSL UNG berencana untuk mengembangkan materi ke topik yang lebih dalam, seperti AI for Data AnalysisOptimasi Kode, atau integrasi dengan framework front-end.

Dengan semangat “Keep coding with good vibes,” KSL UNG terus membuktikan dirinya sebagai wadah yang tidak pernah berhenti berevolusi, mendorong setiap anggotanya untuk tidak hanya mengikuti arus teknologi, tetapi juga siap untuk membentuk dan memimpin gelombang inovasi berikutnya di Gorontalo dan beyond.